Mereka Mencibir Pilihan Saya yang 'Cuma' Kuliah Kedokteran Gigi


 "Sebab menjadi dokter gigi adalah pilihan saya,". Kisah nyata ini diceritakan oleh salah satu Sahabat Vemale untuk "Sebab menjadi dokter gigi adalah pilihan saya,". Kisah nyata ini diceritakan oleh salah satu Sahabat Vemale untuk "Sebab menjadi dokter gigi adalah pilihan saya,". Kisah nyata ini diceritakan oleh salah satu Sahabat Vemale untuk "Sebab menjadi dokter gigi adalah pilihan saya,".

Pilihan Saya Tidak Cukup Baik (dan Tidak Cukup Keren) Bagi Orang Lain
Namun, ketika pertanyaan mengenai mengapa saya lebih memilih menjadi dokter gigi daripada dokter umum datang terus-menerus, bahkan kadang disertai tatapan kecewa seakan saya menyia-nyiakan kesempatan dan kecerdasan yang telah saya miliki, ditambah lagi tidak jarang disertai dengan kalimat bernada tidak sedap di telinga, saya mulai merasa marah serta kecewa.

Saya Dianggap Bodoh Karena Lebih Memilih Fakultas Kedokteran Gigi (FKG)
Saya masih ingat bagaimana teman saya yang memilih fakultas kedokteran umum mengatakan bahwa saya bodoh karena justru memilih FKG yang dia jabarkan sebagai Fakultas Kedokteran Gagal. Saya juga masih ingat bagaimana teman saya yang lainnya lagi, yang sekarang juga kuliah di fakultas kedokteran umum mengatakan “Memang sibuk sekali, ya? Kamukan cuma belajar gigi,” saat saya menolak ajakannya untuk pergi keluar karena beberapa hari lagi saya akan ujian blok.

Saya juga masih ingat bagaimana orang-orang memandang teman saya yang menangis di halte depan kampus karena belum bisa pulang padahal sudah lewat jam sembilan malam karena ada rapat organisasi tingkat universitas, padahal besok paginya kami akan tentamen (ujian praktikum) anatomi I. Tiba-tiba saja ada seorang mahasiswa kedokteran yang lewat sambil mencibir dengan mengatakan teman saya sangat berlebihan, “Padahal mereka nggak belajar sebanyak anak FK (Fakultas Kedokteran Umum).”

Ya, saya akui kami tidak mempelajari keseluruhan anggota tubuh manusia. Tapi, bukan berarti kami tidak banyak belajar dan bisa santai-santai saja karena hal itu. Mungkin memang benar bahwa pengetahuan kami pada ilmu fisiologi dan patologi tidak sedalam mahasiswa kedokteran, tapi saya juga yakin pengetahuan mahasiswa kedokteran mengenai macam-macam bahan biomaterial seperti gips, keramik, aloi, malam, ataupun dental forensic yang menuntut kita untuk dapat melakukan identifikasi korban hanya melalui gigi-geliginya, tidak lebih dalam daripada mahasiswa kedokteran gigi.

Dan jika profesi yang nantinya kami jalani ini memang semudah itu, kenapa kami yang kata kebanyakan orang hanya belajar gigi ini, harus menempuh waktu pendidikan yang sama dengan dokter umum yang belajar keseluruhan anggota tubuh manusia? Itu semua karena pembelajaran kami sudah terfokus untuk mendalami satu hal, namun bukan berarti apa yang kami pelajari itu sedikit atau lebih mudah daripada mahasiswa kedokteran atau mahasiswa jurusan lainnya. Di mana saya yakin tiap jurusan punya kesulitan yang berbeda-beda.

Tidak Ada Satu Profesi (Apapun) Yang Berhak Dianggap Lebih Rendah
Saya juga tidak mengatakan bahwa sesungguhnya profesi ini lebih sulit daripada profesi lain, namun saya ingin menegaskan bahwa tidak satupun orang berhak untuk merendahkan suatu profesi dibanding yang lainnya. Bahkan untuk petani dan buruh bangunan, tanpa mereka, dokter, guru, artis, bahkan presiden sekalipun akan kesulitan untuk mendapatkan makanan dan memiliki tempat tinggal layak. Hal ini kemudian menyadarkan saya untuk lebih menghormati sesama manusia, karena saya tahu rasanya seringkali direndahkan oleh orang banyak karena pilih hidup saya ini. Namun, saya sadar, tidak semua orang akan mengerti akan hal ini.

Tidak semua orang akan peduli pada perasaan orang lain yang mereka sakiti dengan kata-kata tersebut. Dan saya, sebagai orang yang memilih jalan hidup ini, sebagai orang yang lebih mengerti dan tahu bahwa apa yang sebetulnya saya jalani berbeda dengan apa yang orang lain lihat, serta saya sebagai orang yang lebih mampu untuk berpikirlah yang harus mengalah. Bukan mengalah untuk mereka yang mencemooh saya, namun mengalah untuk diri saya sendiri agar menjadi lebih sabar dan rendah hati. Sebab dua tangan saya tidak akan cukup untuk membungkam mulut-mulut yang memproduksi kalimat-kalimat menyakitkan hati para calon dokter gigi, namun masih mampu jika saya gunakan untuk menutup kedua telinga ataupun mengelus dada.

Sehingga, meskipun awalnya saya marah dan kecewa pada banyak orang yang terus-terusan bertanya kepada saya, “Kok mau cuma jadi dokter gigi?”, saya tahu hal yang harus saya lakukan hanyalah menerapkan kalimat bijak dari Govind Vashdev:

Tidak semua orang akan peduli pada perasaan orang lain yang mereka sakiti dengan kata-kata tersebut. Dan saya, sebagai orang yang memilih jalan hidup ini, sebagai orang yang lebih mengerti dan tahu bahwa apa yang sebetulnya saya jalani berbeda dengan apa yang orang lain lihat, serta saya sebagai orang yang lebih mampu untuk berpikirlah yang harus mengalah. Bukan mengalah untuk mereka yang mencemooh saya, namun mengalah untuk diri saya sendiri agar menjadi lebih sabar dan rendah hati. Sebab dua tangan saya tidak akan cukup untuk membungkam mulut-mulut yang memproduksi kalimat-kalimat menyakitkan hati para calon dokter gigi, namun masih mampu jika saya gunakan untuk menutup kedua telinga ataupun mengelus dada.

Sehingga, meskipun awalnya saya marah dan kecewa pada banyak orang yang terus-terusan bertanya kepada saya, “Kok mau cuma jadi dokter gigi?”, saya tahu hal yang harus saya lakukan hanyalah menerapkan kalimat bijak dari Govind Vashdev:

No comments:

Post a Comment